|
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Sambas.GugustugasTrafiking.org. Saprianto (54) warga desa Alur Badung Dusun Nyiur Melambai Teluk Batang KKU dan Risky (20) warga PT Perbatasan dusun Pelita Mekarsari KKR. Menurut pengakuan Saprianto, ketika ditemui di Resort Sadap bersama Risky didampingi beberapa anggota Resort Sadap di Dusun Manua Sadap, Minggu (9/5), keduanya sudah bekerja kurang lebih lima bulan di perusahaan penanaman kayu (penghijauan ) di Kapit Kampung Sawang Malaysia, namun tidak dibayar. Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Kata Saprianto, mereka berdua bekerja sudah lima bulan di perusahaan milik orang Malaysia bernama William, “Kami dibawa GM untuk bekerja di perusahaan penghijauan milik William, namun setelah bekerja lima bulan kami belum di bayar, mau pulang uang tidak ada, Paspor dipegang GM,” terang Saprianto ditemani Risky yang masih terlihat syok. Risky ketika diajak berbicara pun hanya mengangguk, “Dia sakit, tadi dikasih parasetamol,” kata Saprianto lagi. Cerita ini berawal dari keinginan mengubah nasib ke Malaysia tersebut lantaran dijanjikan agen GM dibayar memuaskan, nyatanya sampai di sana, kata Saprianto lagi jangankan dibayar, minta uang buat telpon keluarga di Teluk Batang saja tidak diberi, oleh William. Karena tidak tahan, Saprianto dan Risky akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia, lagi-lagi William tidak mau memberi uang, “Kami minta uang untuk ongkos pulang tapi kata William silakan pulang karena bukan dia (William) yang membawa kami berdua ke sini,” ujar Saprianto menirukan. Saprianto dan Risky akhirnya memutuskan pulang lewat ‘jalan tikus’ setelah menanyakan arah ke para pelaku illegal logging di daerah Kampung Sawang, perbatasan Indonesia-Malaysia, kemudian menyusuri sungai untuk sampai di Putussibau,“Kami diminta pekerja illegal logging menyusuri sungai kalau mau sampai di Putussibau,” kenang Saprianto. Menurut keterangan Rotinus, warga Kampung Belimbis yang pernah tinggal lima tahun di Malaysia, memang banyak ‘Jalan Tikus’ dari Malaysia ke Indonesia, salah satunya melalui Camp Rimbunan Hijau (Perusahaan Malaysia) menuju sungai Embaloh, (kawasan TNBK). Saprianto dan Risky menyusuri jalan yang ditunjukan, selama sepuluh hari hanya minum air, “Di jalan Risky sempat jatuh kepalanya membentur batu, saya sangat mengkuatirkannya,” ungkap Saprianto. Sampai akhirnya mereka berdua tiba di Sungai Embaloh, bertemu dengan Pak Tepak dan Pak Tong warga Rumah Betang Manua Sadap yang sedang mencari ikan, kemudian dua laki-kali nekad itu dikasih makanan bekal pak Tong dan Pak Tepak. Kedua nelayan tersebut juga kata Saprianto membekali mereka, namun tidak tahu bagaimana memasaknya, lalu keduanya membuat rakit menyusuri sungai Embaloh. Sampai ketemu dengan rombongan Siswa dan guru serta wartawan yang berkegiatan di TNBK dalam rangka memperingati hari keaneka ragaman hayati di TNBK Oleh GTZ, DED, WWF. Dua warga Indonesia tersebut kemudian dievakuasi ke Resort Sadap, selanjutnya untuk di pulangkan ke kampung halaman menggunakan mobil patrol Kehutanan Resort Sadap. (T5. Sumber. Tribune.) |