Home » Artikel » Lebih Enak Jadi Pelacur, Katanya
 
Lebih Enak Jadi Pelacur, Katanya PDF Cetak E-mail

Oleh Mariska Lubis - 24 September 2009

CUMA modal “buka” dagangan saja, dapat duit banyak. Tidak perlu bersusah payah ataupun banting tulang untuk bisa mendapatkannya.

“Ya, iyalah, Mbak. Kalau lagi rame, saya bisa dapat lima juta sebulan!”
Lima juta sebulan di tahun 1995 sama dengan berapa ya sekarang? Hitung sendiri, ya!
“Kalau jadi pembantu, paling gede juga cuma nopek (dua ratus ribu, maksudnya).”
Jauh banget, ya, bedanya!


“Mana capek lagi! Nyapu, nyuci, ngepel, nyetrika… blom lagi kalau majikannya pelit dan galak. Ogah beneer!”

Pada saat itu, saya bersama beberapa orang kawan melakukan bakti sosial di daerah lokalisasi Kalijodo, Jakarta Barat, yang baru saja terkena musibah banjir. Maksud kami datang ke sana untuk memberikan bantuan yang datang dari para dermawan yang baik hati menyumbangkan makanan, pakaian, dan obat-obatan. Sama sekali tidak terpikir oleh saya bakal bisa ngobrol dengan salah seorang pelacur yang memang mangkal dan tinggal di sana.

Persis seperti apa yang diceritakan oleh Kang Karman (nama samaran), seorang kawan yang sekarang memiliki sebuah kedai kopi di kota Kembang Bandung.

“Waktu tahun 1993-an saja “bintang”-nya pelacur di Bandung bisa mendapatkan penghasilan sampai Rp, 9 juta per bulan. Bisa lebih kalau dia mau.”
“Wah, tahu dari mana, Kang?”
“Saya pernah pacaran, tuh, sama salah satu bintang di sana. Hehehe…”
Waduh, pantesan tahu!
“Sayangnya uang itu habis nggak keruan. Sebagian besar memang untuk menanggung biaya keluarga, tetapi sebagian lagi untuk bersenang-senang.”
Mungkin ini yang dibilang orang duit haram, ya. Besar tapi nggak jelas larinya ke mana.
“Mereka juga susah dibilanginnnya! Sudah keenakan jadi pelacur. Gampang duitnya!”

Singkat cerita, saya kemudian ngobrol dengan seorang pelacur di sana. Namanya Marni, asal dari sebuah kota di daerah Jawa Barat. Bila melihat dandanan dan caranya bergaya, tidak akan ada yang percaya bahwa dia masih berumur 14 tahun. Badannya yang terbilang cukup bongsor dengan bedak setebal 2 cm dan gincu merah menyala, saya pun mengira dia sudah berumur 21 tahun.

“Bapak yang bawa saya ke sini, Mbak!”
Tega benar, tuh bapak! “Memangnya setiap bulan kamu kirim berapa ke kampung?”
“Yah, paling sedikit 2 jutalah. Kalau kurang dari segitu nanti Bapak datang dan marah-marah lagi.”
Stress banget, nggak sih, dengernya…
“Saya pernah dipukulin Bapak gara-gara hanya bisa ngasih sejuta! Habis lagi sepi juga di sini.”
Benar-benar saya nggak habis pikir? Gila kali, tuh, Bapak, ya?
“Makanya saya takut , Mbak!”

Naluri saya pun langsung bicara. Bagaimana kalau saya angkat dia sebagai adik saja. Kebetulan saya hanya tinggal sendirian di rumah. Kalau hanya untuk biaya hidup dan sekolah, sih, ayah saya pasti tidak akan keberatan membantu. Saya juga punya penghasilan sendiri yang cukup lumayan saat itu.

“Kamu mau nggak ikut saya?”
“Ke mana, Mbak?”
“Ke rumah. Kamu temani saya tinggal di rumah. Nanti kamu bisa sekolah dan mendapat pekerjaan yang lebih baik dari di sini.”
“Jadi pembantu?”
“Bukan, jadi adik saya! Selain sekolah, kamu tidak perlu mikirin makan dan tempat tinggal. Kalau kamu mau, kamu juga bisa membantu toko bunga saya.”
“Memangnya saya bisa dapat berapa sebulan? Kalau kurang dari dua juta, mendingan saya di sini saja, Mbak!”

Geram. Sedih. Marah. Jengkel. Bercampur aduk menjadi satu. Tidak tahu harus bicara apa lagi, saya pun langsung pergi meninggalkan dia. Kayaknya percuma saja, ya! Tuntutan ekonomi dan rasa ketakutan yang sebegitu besarnya membuat seseorang, terutama anak, bisa membuat mereka jadi seperti itu. Kasihan!

Apa mereka nggak mikir bahwa ada masa depan yang sedang menanti? Apa mereka masih akan laku atau tidak. Apa mereka tidak terkena penyakit atau tidak. Apa mereka ingin punya keluarga atau tidak. Tidakkah mereka ingin hidup lebih bahagia nantinya? Atau memang mereka nggak mau pikirin, ya? Gimana nanti aja, kali ye!

Sekali lagi, kalau sampai terjadi seperti ini, siapa yang harus disalahkan? Orang tua? Keluarga? Mucikari? Atau Pemerintah? Sepertinya semuanya salah, ya. Memangnya para pelanggan mereka juga nggak salah? Kita sebagai saudara satu bangsa dan satu tanah air juga nggak salah? Kita yang bisanya hanya mencibir dan menghina mereka, jarang ada, tuh, yang berpikir bagaimana menyelesaikan masalah ini. Paling-paling hanya protes, kritik dan demo doang. Demonya nggak jelas lagi apa tujuannya! Demo untuk kepentingan mereka dan kita bersama atau hanya untuk kepentingan diri sendiri dan sekelompok orang saja.

Bantuin mikirin, ya! Saya sangat berharap ada di antara pembaca yang bisa membantu.

Salam Kompasiana,

MARISKA LUBIS

 
Hakcipta@2009 Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang