Home » ESKA » Data » Situasi ESKA » Sumatera Utara : Situasi Eksploitasi Seks Komersial Anak di Medan
 
Sumatera Utara : Situasi Eksploitasi Seks Komersial Anak di Medan PDF Cetak E-mail

Medan merupakan jantung aktivitas perekonomian di pulau Sumatera, sehingga tidaklah mengherankan bila kota ini tumbuh dan menjadi salah satu kota besar di Indonesia. Selain itu, Medan juga merupakan salah satu tujuan pariwisata utama di utara pulau Andalas ini.

Namun, di tengah gegap gempita dan prestasinya, Medan tetap menghadapi beragam permasalahan sosial, salah satunya adalah kasus Eksploitasi Seks Komersial Anak (ESKA) yang cukup marak terjadi di daerah ini khususnya dalam bentuk pelacuran anak. Jumlah anak korban ESKA di Medan mencapai 2000 secara merata di seluruh wilayah. Angka ini sangat estimatif, karena sulitnya mendata secara pasti fenomena gunung es ini.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) yang berbasis di Medan pada tahun 2008, fenomena ESKA pada remaja di kawasan ini sangat maemprihatinkan. Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan satu fakta yang sangat ironis. Bagaimana tidak, ribuan anak-anak perempuan yang baru gede, yang sebagian besar mereka masih berstatus pelajar, yang di rumah kelihatannya “penurut” kepada orang tua, yang selalu belajar di rumah, tidak pernah keluar malam, tidak mengenal dunia gemerlap (dugem) ternyata menjadi pelampiasan nafsu bejat para pria Tubang (tua bangka).

Istilah Tubang pun semakin mengemuka dan popular di kalangan anak-anak sekolah di Medan, khususnya pelajar setingkat SMP dan SMA, suatu istilah yang berarti menjual keperawanan atau memperdagangkan tubuh teman atau tubuh sendiri kepada pria hidung belang demi menutupi kebutuhan hidup atau mengatasi masalah keuangan. Yang paling membelalakkan mata, dari penelusuran yang paling jauh kami temukan, di satu sekolah di Medan, sudah terdapat rata-rata 10-15 anak per kelas yang sudah membisniskan diri dan selanjutnya “membantu” temannya membisniskan keperawanannya. Masalahnya hanya karena tak punya uang mengganti uang sekolah/ uang tabungan siswa/ uang buku/ yang termakan atau hanya karena ingin mengkonsumsi berbagai kebutuhan untuk gaya anak muda yang lagi tren seperti HP, jam tangan dan sebagainya. Dan kita, entah sebagai orang tua atau pihak yang masih memiliki tanggung jawab masih banyak yang alpa begitu cepatnya “bisnis seks” ini menular dan menggurita di kalangan pelajar. Mereka melakoni peran ini di siang hari yang melibatkan hampir semua hotel berbintang.

ABG malam yang umumnya tinggal di kos-kosan yang menjajakan dirinya di antara Pekerja Seks Komersil (PSK) dewasa di sejumlah titik di kota Medan juga masih menjadi fenomena tersendiri yang menambah degup jantung kota Medan di malam hari.

Selain itu, kami juga menemukan maraknya salon plus-plus (istilah bagi salon yang melayani lelaki hidung belang) yang mempekerjakan anak di bawah umur. Menariknya, modus yang digunakan sebagai kedok adalah sengaja merekrut para Anak Baru Gede (ABG) yang berasal dari keluarga yang broken home kemudian menjadikannya anak angkat.

Seperti halnya kasus-kasus ESKA di beberapa kota besar lainnya, perekrut atau pelaku ESKA di Medan masih didominasi orang-orang terdekat korban, seperti orang tua, teman, pacar, atau kerabat mereka.  

Pemerintah dan berbagai pihak yang peduli harus tetap terus mendorong agar kegiatan seperti ini dapat dipastikan berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang positif. Karena kepedulian kita adalah masa depan mereka semuanya. Dan tak bisa disangkal, sebagai anak-anak, mereka adalah makhluk yang suci, meski pun selanjutnya mulia bejatnya budi pekerti mereka turut dibentuk oleh zaman atau diwarnai oleh berbagai informasi salah yang mereka terima dari manusia dewasa di sekitar mereka, atau bahkan teman seusia mereka yang sama-sama tidak mengerti.

 

 
Hakcipta@2009 Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang