Home » ESKA » Data » Situasi ESKA » Situasi Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Bali.
 
Situasi Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Bali. PDF Cetak E-mail

Bali.Ecpat affiliate group in Indonesia. Nada kebersyukuran itu, bukan saja dipanjatkan oleh orang-orang Bali pada hari ini, tetapi jauh sebelum itu, rasa itu telah diperdengarkan oleh mereka sekurang-kurangnya sejak Bali secara resmi dicanangkan oleh pemerintah Indonesia sebagai daerah tujuan “pariwisata budaya” (tahun 1973) sebagaimana dirumuskan McKean (1970)[1]dan bukan sebagai daerah tujuan (pari)wisata lingkungan, terlebih lagi (pari)wisata seks.

Sebuah tindakan ekspresif dalam bentuk ‘demam wisata’ bukan saja terjadi di daerah-daerah tujuan wisata penting di Bali (Sanur, Kuta, Nusa Dua), tetapi telah menjalar jauh sampai masuk ke pelosok desa-desa di seluruh Bali. Seperti layaknya orang terkejut, secara sontak seluruh sumber daya tiba-tiba dikerahkan untuk berbenah, membangun dan lebih dari itu ‘menjual’ semua potensi yang ada ke sebuah industri yang dipandang menjanjikan pada waktu itu, yaitu: industri pariwisata. Meminjam istilah Nengah Mariani (12 tahun, seorang pedang gelang kulit di Kuta, pada 1999), pengerahan semua sumber daya itu, tidak lain adalah untuk memikat (menggaet) tamu (turis), yang diharapkan melalui cara seperti itu, gemerincing dollar yang dibawa para tamu (turis) dapat jatuh atau setidak-tidaknya mampu menetes sampai ke desa-desa di seluruh Bali, termasuk dirinya bersama anak-anak yang nasibnya kurang beruntung.

Setelah dilakukan assessment  oleh mitra Ecpat Affiliate group in Indonesia di Bali secara mendalam ada tiga pokok masalah yang muncul dari realitas Eska yang kini sedang berkembang dikepariwisataan Bali, yaitu: (1) Bagaimana praktek Eska tersebut dilakukan?; (2) Siapa saja actor yang bekerja dan berjejaring didalamnya? dan (3) Apa saja aspek kontributif dunia pariwsata terhadap praktek Eska tersebut.

Hasil asessment menunjukkan, bahwa praktek Eska di kepariwisataan Bali menampakkan realitasnya ke dalam dua bentuk eksploitasi yang beroperasi secara terpisah. Bentuk praktek Eska pertama dioperasikan menyatu dengan praktek pekerja seks komersial (PSK) dewasa, sedangkan yang kedua, adalah Eska dalam bentuknya sebagai korban praktek pedofil. Wujud Eska pertama, dieksploitasi sebagai PSK anak yang dihadirkan ke publik pariwisata sebagai PSK anak Mobil Keliling, PSK anak Café dan Bungalow, PSK anak Dakocan, PSK anak Bar, dan Diskotik, serta PSK anak yang dioperasikan di dunia prostitusi terlokalisir. Dari seluruh kelompok PSK anak ini ada yang dimanage oleh germo bersama jejaring didalamnya, ada pula yang beroperasi secara mandiri (soliter). Bentuk Eska kedua, adalah Eska korban praktek pedofil dalam bentuk eksploitasi seksual (sodomi/anal dan intercourse/vaginal), dan pornografi (foto, video).

Diketahui sampai Maret 2009, praktek pedofili dilakukan oleh orang-orang asing, diantaranya 11 orang berasal dari Australia, 4 orang dari Jerman, 3 orang dari Belanda, 3 orang dari Prancis, 2 orang dari Italia, dan masing-masing 1 orang dari Swiss, dan Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut (25 pedofil), 16 pedofil mengorientasikan fantasi seksualnya secara homoseksual dan 9 lainnya secara heteroseksual. Fantasi seksual tersebut diperoleh melalui modus seperti: menjadi orang tua asuh anak-anak korbannya, dermawan, pekerja sosial LSM, penyantun, guru bahasa, dan pecnta anak. Modus operasi sebagai bapak angkat merupakan modus yang paling banyak digunakan oleh para pedofil karena dinilai oleh warga masyarakat sebagai perilaku yang baik dan benar secara sosial, serta dirasa sangat membantu terhadap kemiskinan yang dialami oleh keluarga. Motif yang lain tampak kurang efektif, karena banyak mendapat perlawanan dari anak-anak, orang tua atau warga masyarakat. Seluruh bentuk Eska di atas dioperasikan secara berjejaring dengan melibatkan beberapa aktor perekrut, broker, maupun penerima.

Jaringan yang dibentuk tergolong sangat rapi dan tersembunyi dengan sifat tidak berpola dan terstruktur serta berkeanggotaan sangat terbatas. Fungsi jaringan, selain untuk perlindungan dan pertahanan diri, juga untuk perekrutan, pengiriman, dan penjualan anak dengan intensitas menguat jika ada kepentingan dan melemah jika kepentingannya sudah tercapai. Dampak yang muncul akibat tindakan eksploitatif diantaranya, korban mengalami depresi, hilang kepercayaan diri, dan satu kasus telah bunuh diri (khususnya Eska korban pedofil). Persoalan ini telah memperoleh respon yang aktif dari pemerintah (Bali), NGO maupun aparat penegak hukum. Bentuk respon yang paling popular untuk kelompok Eska sebagai PSK anak diantaranya: pemeliharan kesehatan khususnya dari infeksi penularan PMS,HIV/AIDS, dan pengangkatan sebagai relawan pekerja social untuk maksud yang sama. Untuk kasus pedofil, respon yang paling menonjol adalah upaya penangkapan, pendeteksian, pencegahan dan pemulihan psikis anak-anak korbannya. Dalam perkembangannya, semua bentuk respon ini telah menjadi salah satu keputusan kebijakan yang selama ini telah berjalan efektif untuk merespon semua persoalan yang terdapat dalam praktek Eska. Walaupun masih terdapat beberapa tindakan yang kurang optimal, tetapi respon ini jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan bentuk respon telah dilakukan sebelumnya (1997-an).

Fakta ini membuktikan bahwa, persoalan Eska masih perlu mendapat dukungan optimal dari semua pihak dan tidak cukup diselesaikan hanya dengan satu pendekatan (hukum) saja. Iklim reformasi, otonomi, dan gerakan good governance, seperti sekarang ini dapat dijadikan modal social oleh semua pihak di Bali, untuk lebih menghasilkan sebuah bentuk kebijakan yang lebih sensitive terhadap kepentingan anak maupun memanusiakan mereka dihadapan semua bentuk pandangan diskrimatif, maupun rasa keadilan (hukum) yang selama ini masih dirasa kurang mengedepankan kepentingan anak.

 



 

 
Hakcipta@2009 Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang