Home » ESKA » Data » Situasi ESKA » NTB: Situasi Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Pulau Lombok
 
NTB: Situasi Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Pulau Lombok PDF Cetak E-mail

Pulau Lombok biasa juga disebut ’sunda kecil’ merupakan salah satu pulau yang menjadi bagian dari propinsi Nusa Tenggara Barat. Sejak lama Lombok menjadi pusat pariwisata, dimana icon yang selama ini dikenal dalam paket wisata Bali-Lombok. Dan slogan ini juga terpampang di pintu selamat datang bandara udara Selaparang ’welcome to Lombok the litle sister island of Bali’. Pariwisata Lombok yang terkenal dengan wisata alam, juga menjadi salah satu sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) nomor dua setelah pertambangan emas Newmont.

Pariwisata Lombok yang berkembang saat ini ditumpangi kepentingan aktor-aktor yang menjual Lombok sebagai tujuan pariwisata sex? Seperti beberapa tulisan yang disampaikan ”Bali – Lombok Surga Pedopil” hasil riset Kanaivasu-SANTAI-Koslata, dimana mereka akan mendapatkan mangsa dengan harga murah dan mudah. Hal ini terkait dengan tulisan berkaitan dengan  situasi ESKA di NTB dan Indonesia yang dilakukan Yayasan SANTAI[1] sebagai salah satu member ECPAT Indonesia. Beberapa kawasan tujuan wisata yang menjadi obyek pengamatan yakni kawasan wisata Senggigi, kawasan wisata 3 gili di Pamenang dan kawasan wisata Suranadi-Narmada.

Dari hasil pemetaan sekilas yang dilakukan di 3 kawasan obyek wisata yakni Senggigi, 3 gili di Pamenang dan Suranadi-Narmada yang merupakan kawasan wisata yang sangat ramai dikunjungi turis baik lokal maupun manca negara. Dimana sebagian turis atau warga asing yang tinggal sementara di kawasan Senggigi memiliki tempat kunjungan atau rumah yang dibangun dan rutin dikunjungi dalam pengembangan bisnisnya.

Sebagian besar pelaku bisnis di kawasan wisata dan pelaku wisata menyatakan bahwa wisata plus hiburan tidak terlepas dari bisnis sex. Dan dinyatakan untuk membuat laku bisnis mereka menarik kelompok muda atau anak-anak untuk menjadi obyek eksploitasi sex. Karena usia masih muda akan banyak menarik peminat atau pelanggan, jika usia sudah menginjak 25 tahun sebagian besar masuk ke bisnis SPA plus-plus.

Dari 87 responden yang ditemukan sebagian besar 51,72% berasal dari luar propinsi NTB dan 51,72% berusia antara 16-18 tahun atau masih diusia anak-anak yakni di bawah atau sama dengan 18 tahun saat penelitian ini dilakukan atau dari hasil wawancara singkat. Fakta ini menunjukkan bahwa Lombok merupakan salah satu kawasan tujuan pencari kerja khususnya di area hiburan dan wisata. Dimana disatu sisi pariwisata menjadi tumpuan lapangan kerja di Lombok khususnya dan NTB umumnya serta sumber PAD (Pendapatan asli Daerah), dan sisi lainnya dampak negatif pariwisata yang dieksploitasi oleh oknum pelaku wisata sehingga menimbulkan image wisata plus hiburan plus sex. Beberapa fakta yang menyebabkan anak-anak terjerumus dalam ESKA yakni rendahnya tingkat pendidikan, kondisi sosial ekonomi keluarga, dan pengaruh lingkungan serta media yang membuat mereka tergiur untuk mendapatkan keinginannya tanpa melihat kemampuan.

Dari hasil investigasi yang dilakukan yayasan SANTAI ditemukan bahwa 75 % responden dari 70 responden yang diwawancara menyatakan bahwa mereka terjebak di pelacuran sejak usia dibawah 18 tahun. SANTAI melihat saat itu fenomena ini akan sangat membahayakan bagi perkembangan anak-anak dan dunia pariwisata itu sendiri. Selanjutnya, berdasarkan kesepakatan nasional bahwa anak-anak korban ESKA yang terjebak dalam dunia prostitusi disebut AYLA (Anak Yang Dilacurkan).

Tahun 2003-2005, Penelitian studi kasus  bentuk kekerasan terhadap anak di Bali-Lombok, hasil yang didapat 173 anak pernah menjadi korban para pedopil. Dalam studi ini ditemukan korban pedopil bervariasi, artinya ada yang korbannya dari anak perempuan. Menurut dr. Elly Rosila kepala Rumah Sakit Jiwa Mataram, bahwa pedopil ini sebuah kelainan yang diderita orang dewasa dimana mereka lebih menyukai berhubungan seks dengan anak-anak. Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa ”tamu” ini awalnya adalah turis yang berkunjung ke Bali yang selanjutnya meneruskan perjalanan ke Lombok

Di tahun 2006,warga mulai jenggah dengan isu pedopil atau pemaksaan perbuatan sex yang dilakukan orang dewasa kepada anak-anak. Tahun ini menoreh sebuah cerita sukses berkaitan dengan tertangkapnya warga dari Aurtralia yang melakukan sodomi kepada 4 anak asal Batulayar. Si pelaku sudah mendapatkan hukuman penjara 4,5 tahun, akan tetapi menurut pandangan masyarakat bahwa hukum tidak berbuat adil pada korban. Akibat perlakuan si pelaku, para korban tidak lagi mau bersekolah karena malu dan belum lagi sakit yang diderita korban yang tidak mendapatkan kompensasi kesehatan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh SANTAI Mataram bahwa sebagian besar anak yang menjadi korban eksploitasi seksual memiliki latar belakang sosial ekonomi yang rendah. Melihat dari kisah –kisah anak yang menjadi korban menyatakan bahwa kondisi ekonomi yang pas-pasan dan tanggungan seorang anak menyebabkan mereka mudah terbujuk melakukan apa saja untuk menutupi biaya hidup.

Selain itu status janda yang disandang anak  saat usianya masih 18 tahun membuat anak-anak rentan terhadap eksploitasi seksual dan eksploitasi ekonomi. Diusia yang masih belia menyandang beban sebagai janda dimana status sosial di masyarakat masih dianggap orang yang ’kurang pandai’ dalam mengurus keluarga atau suami, merupakan beban psikis yanng teramat berat. Ditambah lagi beban itu oleh kehadiran anak.

Di Lombok, pernikahan di usia dini atau di usia anak merupakan hal yang biasa. Jumlah dan Persentase wanita Menurut Umur Perkawinan Pertama, berdasarkan data BPS Lombok Barat    tahun 2007  bahwa usia pertama menikah kurang dari 16 tahun sebesar 4,55% dan usia 16-19 tahun sebesar 51,04 %. Jadi bisa dikatakan bahwa usia pertama menikah di Lombok sangat besar di usia anak-anak. Bahkan perkawinan di usia anak ini telah menyumbang pada angka kawin cerai yang cukup tinggi.

Latar belakang pendidikan anak yang dilacurkan juga  sangat beragam. Ada yang mengenyam pendidikan hanya sampai SD, SMP, SMU dan bahkan ada yang sama sekali tidak pernah menikmati bangku sekolah. Berdasarkan informasi yang digali dari sopir taxi sebagai perantara, ada juga yang masih aktif sekolah.

Sindikasi ESKA di Lombok sudah memiliki jaringan yang sangat rapi. Pola perekrutan yang dilakukan melalui perantara yang sangat dikenal oleh korban, dan tidak jarang yang menjerumuskan atau menjual adalah pacarnya sendiri. Beberapa temuan tim, bahwa ada beberapa yang beroperasi antar pulau seperti Bali dan Lombok dengan melihat trend keramaian kunjungan pariwisata. Dari hasil pemantauan ESKA yang terdata oleh tim SANTAI berjenis kelamin perempuan dan laki-laki. Beberapa modus perekrutan dan eksploitasi yang dilakukan, antara lain :

u      Pemberian beasiswa bagi kelompok   miskin melalui pola anak asuh

Pada kasus ESKA pada anak-anak korban sodomi penyandang pedopil di Lombok, menggunakan modus perekrutan melalui pemberian beasiswa bagi anak. Pelaku langsung bekerjasama dengan pihak sekolah atau langsung ke masyarakat, dengan memilih anak-anak yang sesuai dengan  kriteria pelaku.

u      Melakukan bujukan, rayuan & bentuk lain

Pola ini sudah biasa dan umum dilakukan oleh pelaku. Beberapa kasus yang menjadi fokus kajian pada pemetaan ini, contohnya pacar atau teman dekat merupakan pelaku utama dalam menjerumuskan korban pada dunia prostitusi.

u      Dilakukan secara paksa dengan memberikan korban minuman yang memabukkan. Modus operandi seperti ini banyak juga dilakukan oleh para pedopil ketika ingin mendapatkan mangsanya tanpa harus banyak pertanyaan. Anak-anak korban pedopil menceritakan sebelum perbuatan pelaku dilakukan terlebih dulu mereka diajak melihat film porno “…awalnya film tentang hewan-hewan, tapi selanjutnya baru film Porno” . Sambil menonton film pelaku memaksa mereka untuk menyantap hidangan yang berupa minuman, rokok dan sedikit makanan. Ketika mabuk korban dibawa ke kamar dan dipaksa melayani nafsu pelaku

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa pengelola hiburan juga menyatakan bahwa menyediakan pelayan sex merupakan kebutuhan untuk mampu bersaing di bisnis hiburan yang dikelolanya. Bahkan mereka juga berjuang untuk menghilangkan jejak korban dengan cara memberikan identitas palsu. Dimana seharusnya korban masih berusia anak-anak diubah menjadi usia 21 tahun, sehingga jika ada penertiban germo menyatakan bahwa mereka tidak mempekerjakan anak-anak dan korban datang sendiri mohon pekerjaan.

Dalam hal ini penegakan hukum juga menjadi pertanyaan, contohnya masih saja ada oknum yang berani memberikan identitas palsu terhadap korban sehingga korban seolah-olah makhluk dewasa, membuat kasus-kasus seperti ini sulit dijerat dalam kasus hukum. Selalu saja pelaku menyatakan korban minta pekerjaan dan usia mereka sudah dewasa, bahwa semakin muda usia maka pelaku akan semakin banyak keuntungan dan permintaan akan meningkat.

Penyakit PMS sering di idap para korban seperti penyakit kelamin sipilis, karena kebanyakan pelaku tidak pernah menggunakan penangaman saat melakukan hubungan sex. Dan berkaitan dengan penyakit yang dideritanya kebanyakan tidak seberapa dihiraukan karena mereka berpikir lebih baik diam dan tetap bekerja untuk mendapatkan uang untuk membiayai kehidupan sehari-hari seperti membayar kos-kosan, mengirim uang untuk anaknya yang di Jawa.

Untuk penyembuhan penyakitnya kebanyakan mereka mendapatkan informasi dari sesama teman, artinya mengobati sendiri penyakitnya. Terkadang juga berobat ke bidan desa terdekat, dikawasan mereka tinggal.

Dalam upaya penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Lombok maka perlu dilakukan beberapa rekomendasi diantaranya kemitraan strategis dalam perlindungan anak-anak antar pihak (Pemerintah, Masyarakat, Swasta, CSO), membangun kesepahaman dalam pencegahan dan penanganan berbagai tindak kekerasan terhadap anak dan mewujudkan pariwisata yang sehat sebagai sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) di NTB.

[1] Yayasan Santai adalah anggota ECPAT affiliate group in Indonesia

 

 
Hakcipta@2009 Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang