Home » Penegakan Hukum » WINFAIDAH : TKI TERANIAYA YANG DIKIRIM PADA MASA MORATORIUM
 
WINFAIDAH : TKI TERANIAYA YANG DIKIRIM PADA MASA MORATORIUM PDF Cetak E-mail

 

Jakarta - gugustugastrafficking.org –Winfaidah dikirim ke Malaysia sebagai PRT yang  dilakukan secara unprosedual dan dalam masa moratorium, dan saat  ini telah ditahan 2 orang tersangka yang berinisial UBS dan KS. Hal ini disampaikan oleh Brigadir Jenderal Drs. Agung. S. Santoso,SH, M.Hum, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, pada Press Release dihadapan para wartawan media elektronik dan media cetak di Aula Bareskrim Polri (25/11).

Penanganan kasus Winfaidah ini diharapkan dapat mengungkap jaringan / pelaku yang mengirim korban ke Malaysia secara unprosedural dan dalam masa moratorium.

Korban Winfaidah berasal dari Kecamatan Batanghari, Lampung Timur yang direkrut oleh petugas lapangan berinisial P. Sebelum ditempatkan di Malaysia, korban awalnya dikirimkan ke Singapura sebagai pembantu rumah tangga pada tanggal 25 agustus 2009 bersama 4 TKI lainnya melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta. Namun karena gagal entry test (test bahasa inggris) maka tanggal 29 agustus 2010 oleh agen Singapura korban bersama teman-temannya dikirim ke Batam Propinsi Kepri melalui pelabuhan Batam Center dan ditampung oleh kantor cabang PT. Hasrat Insan Nurani yang dipimpin oleh tersangka UBS selama 1,5 bulan.

Pada tanggal 19 oktober 2009, korban bersama ke-4 CTKI lainnya diberangkatkan oleh KS dan UBS melalui pelabuhan Batam Centre, kota Batam ke Malaysia dengan ditumpangkan kapal ferry. Korban dipekerjakan kepada majikan seorang tua Cina perempuan yang bernama Kim Pooh  biasa dipanggil Anty.

Tugas korban dirumah majikannya tersebut mengurusi majikannya dan 2 ekor anjingnya namun selama bekerja korban sering dimarahi dan dianiaya serta tidak diberikan gaji hingga akhirnya korban melarikan diri dan selanjutnya bekerja dirumah majikan yang kedua yang bernama Sunti dan Welu WN Malaysia keturunan India yang bekerja mengurus 4 orang anaknya dan membersihkan rumah sejak mulai pukul pagi hingga tengah malam tapi hanya diberi makan sehari sekali saja.

Selain itu korban sering mengalami kekerasan phisik dan seksual serta tidak diberikan gaji dan ditinggalkan / dibuang di jalan dalam keadaan luka parah akibat sering dianiaya majikan perempuan dan anak-anaknya dengan cara dipukuli, disiram air panas dipunggung korban, disudut, disetrika di kedua payudara korban dan juga korban pernah digunting jari telunjuk kiri korban gara-gara korban ketahuan saat mengambil sepotong pepaya di kulkas karena korban benar-benar lapar.

Darah yang mengucur dari jari korban ditampung dengan muk kaleng tempat minum korban kemudian korban disuruh meminumnya. Selain itu, korban telah diperkosa majikan laki-lakinya bahkan dengan bantuan majikan perempuannya dengan cara memaksa dan menyeret korban agar melayani suaminya kemudian majikan perempuan memotret adegan perkosaan tersebut.

 

Kedua majikan korban ditangkap dan diproses oleh polisi Malaysia dan saat ini telah ditahan serta menjalani persidangan.

 

Kasus ini mendapat perhatian dari Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudoyono mengingat saat itu korban pernah berkomunikasi langsung melalui telephone dengan Bapak Presiden sehingga membuat Beliau prihatin dengan masalah ini.

 

Disamping itu kedua tersangka KS dan UBS selaku kepala cabang Pt. Hasrat Insan Nurani Batam mengirimkan korban Win ke Malaysia untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada masa moratorium (penghentian pengiriman tki dari indonesia ke malaysia yang dimulai sejak bulan Juli 2009).

 

Tim UPPA Bareskrim Polri langsung menangani kasus ini dengan melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap dokumen-dokumen yang terdapat pada korban. Diketahui bahwa korban dikirim oleh KS dan UBS selaku kepala cabang PT. Hasrat Insan Nurani Batam. Setelah dlakukan pengembangan sampai ke Batam, akhirnya Tim UPPA yang dipimpin oleh AKP Rita Wulandari Wibowo, SIK berhasil menangkap tersangka KS dan UBS selaku kepala cabang Pt. Hasrat Insan Nurani Batam. Terhadap kedua tersangka KS dan UBS saat ini dilakukan penahanan dan dalam penindakan tersebut telah diamankan oleh petugas barang bukti berupa dokumen-dokumen yang berkaitan dengan perekrutan hingga penempatan korban Win sebagai TKI ke Malaysia. Adapun pasal – pasal yang dipersangkakan terhadap kedua tersangka adalah :

·  Pasal 2, 4 uu ri no. 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang

·  Pasal 103 uu ri no. 39 tahun 2010 tentang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri.

 

Namun disamping kedua tersangka  UBS dan KS, masih terdapat dua tersangka lainnya berinisial B dan L yang berstatus DPO.

 

Press release ini dihadiri oleh sekitar kurang lebih 35 wartawan media elektronik maupun cetak dan perwakilan Div Humas Polri.

 

Dengan telah ditangkapnya kedua tersangka UBS dan KS, dihimbau kepada para CTKI agar lebih berhati-hati dan lebih teliti bila bemaksud menjadi TKI di luar  negeri. Jangan tergiur oleh iming-iming gaji besar tanpa memperhatikan prosedur resmi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah (ER)


 
Hakcipta@2009 Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang