Home » Rehabilitasi Sosial Pemulangan dan Reintegrasi » RPTC SEBAGAI TEMPAT REHABILITASI PSIKOSOSIAL BAGI KORBAN TRAFFICKING
 
RPTC SEBAGAI TEMPAT REHABILITASI PSIKOSOSIAL BAGI KORBAN TRAFFICKING PDF Cetak E-mail

 

Jakarta- gugus tugas trafficking.org – Korban trafficking yang mendapatkan pelayanan rehabilitasi psikososial di Rumah Perlindungan dan Trauma center (RPTC), diharapkan dapat pulih dari trauma psikososial dan dapat menjalankan fungsi sosialnya kembali dimasyarakat. Hal ini diungkapkan oleh Dra. Sita Widyawati, M.Si, Kasubdit Bantuan Sosial Korban Tindak Kekerasan, Direktorat Bantuan Sosial Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran, Kementerian Sosial RI (9/12).

Meningkatnya jumlah korban trafficking dari tahun ke tahun, menjadi perhatian serius pemerintah. Pemerintah Republik Indonesia telah berkomitmen untuk menghapuskan tindak pidana perdagangan orang, dengan memberlakukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO). Secara khusus dalam Undang-Undang tersebut diatur mengenai pemenuhan hak korban dalam kerangka perlindungan saksi dan/atau korban, terutama yang termuat dalam Pasal 51 Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa korban perdagangan orang berhak memperoleh rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan, dan reintegrasi sosial dari pemerintah apabila yang bersangkutan mengalami penderitaan baik fisik maupun psikis akibat tindak pidana perdagangan orang. Kementerian Sosial sesuai amanat undang-undang dan sesuai tugas pokok dan fungsinya dalam gugus tugas trafficking memiliki tugas pokok dalam hal rehabilitasi sosial, pemulangan dan reintegrasi korban trafficking.

Dalam hal rehabilitasi sosial, RPTC merupakan salah satu lembaga milik pemerintah di bawah kementerian sosial, memiliki salah satu fungsi sebagai tempat rehabilitasi sosial bagi korban trafficking. RPTC adalah suatu lembaga yang bertujuan untuk memberikan perlindungan awal sebagai upaya penyelamatan dan merupakan pusat peredaman (penurunan atau penghilangan) kondisi traumatis yang dialami korban dimana keberadaan korban tersebut karena kesadaran sendiri maupun rujukan dari pelayanan sebelumnya. Sedangkan rehabilitasi sosial adalah pemulihan korban dari gangguan kondisi psikososial akibat tindak pidana perdagangan orang dan pengembalian keberfungsian sosial secara wajar baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Rehabilitasi Sosial ditujukan untuk membantu meringankan, melindungi dan memulihkan kondisi fisik, psikologis, sosial dan spiritual korban tindak pidana perdagangan orang sehingga mampu menjalankan fungsi sosialnya kembali secara wajar.

Korban trafficking yang telah ditangani di RPTC pada tahun 2010 sampai bulan November mencapai 249 orang korban. Mereka merupakan rujukan dari IOM, KBRI Malaysia, Satgas Tanjung Priok dan Bareskrim Polri. Korban trafficking tersebut selanjutnya mendapatkan pelayanan rehabilitasi psikososial berupa konseling, terapi psikososial, bimbingan rohani, pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pekerja sosial, psikolog, dokter, dan tokoh agama. Dalam memberikan pelayanan seperti untuk kasus hukum RPTC juga bekerja sama dengan Orsos/LSM terkait dan pihak kepolisian. Korban yang membutuhkan pelayanan medis lanjutan akan dirujuk ke rumah sakit pemerintah. Sedangkan korban yang telah pulih dipulangan kembali ke daerah asal melalui pemulangan Pelni atau Damri dan selanjutnya bekerjasama dengan Dinas Sosial dalam proses reintegrasi ke keluarga.

Dalam mengatasi permasalahan trafficking ini,  Kementerian sosial juga mengharapkan peran serta daerah dan masyarakat dalam memberdayakan korban trafficking yang telah dipulihkan untuk dapat diikutsertakan dalam program pemberdayaan sosial-ekonomi di daerahnya, sehingga tidak lagi terjerat menjadi korban trafficking (is).
    

 
Hakcipta@2009 Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang