Home » Artikel » Anak Yang Dilacurkan Tidak Pantas Dikembalikan Ke Orangtua-nya
 
Anak Yang Dilacurkan Tidak Pantas Dikembalikan Ke Orangtua-nya PDF Cetak E-mail
 

Anak yang dilacurkan untuk dikembalikan ke orang tua mereka bukan jalan keluar yang bijak. Hal ini yang disampaikan oleh Endang Supriyati, peneliti Yayasan Bandungwangi pada Konferensi ”Penelitian Isu tentang Anak di Indonesia” di Bidakara (22/11). Konferensi ini terselenggara kerjasama Smeru, Bappenas, dan Unicef.

Menurut Endang, bahwa “Pada kenyataan peran orang tua dalam ikut mendorong/membujuk/memaksa anak masuk ke dalam dunia prostitusi, merupakan indikasi jelas, bahwa pada kebanyakan  kasus, mengembalikan anak yang dilacurkan pada orang tua mereka mungkin bukan jalan keluar yang bijak. Keberadaan anak di dunia prostitusi, apalagi sebagai pekerja seks adalah sebuah realita yang sangat mengkhawatirkan”, tegas Endang.

Dari 135 anak berusia 14-18 tahun yang diteliti di 5 kecamatan di dua wilayah Jakarta (Jakarta Utara dan Jakarta Timur) paling tidak telah dilacurkan. Menurut Endang jumlah ini diperkirakan masih bisa bertambah karena riset yang dilakukan sangat singkat. Selain itu ada beberapa AYLA  yang lolos tidak diwawancara karena mengaku berusia di atas 18 tahun sesuai KTP aspal mereka.

Yang sangat mencegangkan dari temuan Endang dan teman-teman bahwa semua AYLA ini sudah terbiasa minum-minuman beralkohol, dan menghirup asap rokok setiap harinya, serta sebagian dari anak ini juga merokok dan menggunakan obat terlarang. Selain itu awal memasuki dunia prostitusi saat masih berusia 13 tahun. Meskipun hampir sebagian AYLA mengaku memasuki dunia prostitusi saat mereka berusia 16 tahun sekitar 42%.

Faktor Penyebab

Menurut temuan Endang bahwa “Alasan utama dari sebagian anak-anak yang dilacurkan adalah agar bisa membeli benda-benda yang sedang trend di kalangan mereka atau terkait dengan kebutuhan ekonomi sekitar 60 persen. Selain itu faktor pernikahan dini dan telah melakukan hubungan seks dengan pacar mereka. Temuan penelitian yang perlu mendapat perhatian bahwa anak-anak ini telah melakukan hubungan seks karena suka sama suka sekitar 72%. Serta beberapa anak tinggal bersama orang tua mereka.

Anak-anak ini sangat beresiko mengalami persoalan kesehatan. Hal ini apabila dilihat dari frekuensi anak-anak melayani pria (penjahat seks). Sejumlah anak yang diteliti menurut Endang bahwa mayoritas AYLA melayani 1-2 orang setiap harinya sekitar 82 persen, selebihnya 3-4 orang, dan yang sangat menyedihkan ada seorang anak sampai melayani 5-6 orang setiap harinya.

Tempat Operasi

Menurut temuan penelitian tempat prostitusi di Jakarta Utara umumnya Cafe/Bar atau Warung Ginseng dengan bayaran 100.000 rupiah, sedangkan di Jakarta Timur lokasi prostitusi di pinggir jalan atau rel kereta api dengan bayaran 20.000 rupiah.

Penegakan Hukum Hanya Isapan Jempol

Indonesia telah merativikasi Konvensi Hak-Hak Anak dan telah memiliki Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor21 Tahun 2007 tentang Pemerantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, namun pada kenyataan praktik prostitusi yang menjadikan anak sebagai korban tetap saja terjadi. Tidak jauh-jauh hanya beberapa meter dari pusat kekuasaan.

Polisi, Jaksa, dan Hakim yang diamanahi untuk menjerat para pelaku antara lain orang tua yang memaksa anaknya nikah dini, memaksa anak menjadi pelacur, germo, pengelola cafe, belum ada satu pun yang ditangkap dan dihukum seberat-beratnya sebagaimana diatur oleh UU. Terkesan Undang-Undang yang ada hanya untuk memenuhi tuntutan PBB yang mengesankan telah memperhatikan anak, tetapi fakta di lapangan Nol Besar.

Justru saat razia anak-anak yang dilacurkan ini dianggap sebagai pelaku kriminal. Mereka tidak mendapat penanganan sebagaimana yang diatur dalam Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 

Anak telah menjadi korban, justru menjadi korban ganda.

Menurut Endang bahwa seharusnya anak-anak yang dilacurkan ini mendapatkan perlindungan dari aparat hukum secara ramah dan bijak melalui penyediaan lembaga perlindungan yang ramah anak. Selain itu  Pemerintah perlu memikirkan bahwa anak-anak yang direhabilitasi untuk tidak dikembalikan kepada orang tua mereka, karena kemungkinan anak-anak ini dijual kembali atau dipaksa nikah dini. Supaya mudah diceraikan dan inilah awal malapetaka yang akan dialami oleh anak untuk dilacurkan oleh orangtua mereka sendiri. Tegahnya. 

Apakah ada asa untuk anak-anak ini. Pembaca dapat mengusulkan ke Pemerintah yang telah diserahi sebagian wewenang untuk tangani hal ini. Apalagi Pemerintah Periode 2010-2014 memprioritaskan penegakan hukum.

 
Hakcipta@2009 Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang